AhliKartuKredit.com

Masalah Kartu Kredit-Tanyakan Pada Ahlinya

Saturday, Nov 01st

Last update:06:18:01 AM GMT

You are here: Home

Kartu Kredit Mudah Dibobol

Cara membobol kartu kreditHati-hatilah bagi pemilik kartu kredit. Karena berdasarkan pengamatan seorang ahli, kartu kredit lebih gampang dibobol dibandingkan ATM. Dan pembobolannya bukan besar-besar melainkan sedikit-sedikit tetapi sering, sehingga si pemilik kartu kredit tidak sadar bahwa dirinya dirugikan. Lebih lanjut mengenai ini simak artikel berikut:


Kartu Kredit Lebih Mudah Dibobol

Pembobolan rekening Bank secara online dinilai susah-susah gampang untuk dilakukan. Namun, jika ingin dibandingkan, layanan perbankan yang lebih mudah dibobol sebenarnya adalah kartu kredit.


Demikian penilaian M. Salahuddien, Wakil Ketua Indonesia Security Incident Responses Team on Internet Infrastructure (ID-SIRTII) kepada www.ahliKartuKredit.com, Rabu (2/7/2011).

Menurutnya, kalau sekadar membobol password atau pin ATM itu mudah karena ada banyak cara sehingga kita bisa membaca isi rekeningnya. Sementara yang agak rumit adalah membobol algoritma sistem token yang digunakan bank.

"Tapi itu juga bukan perkara yang terlalu sulit dan jaman sekarang cara mereka membobol secara online bukan nyolong dalam nominal besar-besaran seperti di Kuta, Bali itu. Tetapi mengambil sedikit-sedikit dari ribuan account," kata Didin, sapaannya.

"Namun tetap yang paling disukai adalah kartu kredit bukan account bank pertama, sebab pengamanan kartu kredit relatif lebih mudah dibobol," lanjutnya.

Selain itu, masih kata Didin, pemegang kartu kredit juga banyak yang tidak curiga dan tidak akan lapor ke pihak bank misalnya seolah dia dibebani suatu biaya yang kecil saja setiap bulan tanpa disadari, misalnya Rp 5000.

"Ketiga, sistem otorisasi kartu kredit meskipun sudah online tetap saja relatif perlu waktu untuk tracking karena lintas penyelenggara. Keempat, membobol rekening tabungan atau deposito relatif lebih beresiko karena semua transaksi tercatat dan diawasi dari dan ke mana perginya dan pengawasnya bukan hanya pihak bank itu sendiri tapi juga BI, PPATK dan lainnya," jelasnya.

Jadi kalau kasusnya seperti di Kuta, Bali, yang rekeningnya hilang dalam jumlah besar dan menimpa rekening tabungan biasa, maka jelas pelakunya konvensional.
Maksudnya tidak menggunakan modus online fraud, tandas Didin.